Ada seseorang yang berdiri di hadapanku. Ia diam, matanya menyalak ke arahku, sedang aku hanya mengamatinya lekat-lekat. Lihatlah, begitu ...

Membunuh Bulan Membunuh Bulan

Membunuh Bulan

Membunuh Bulan

 


Ada seseorang yang berdiri di hadapanku. Ia diam, matanya menyalak ke arahku, sedang aku hanya mengamatinya lekat-lekat. Lihatlah, begitu kataku pada diri sendiri, rambut hitamnya pekat seperti malam, mencuat kemana-mana seakan dalam riwayat hidupnya tiada pernah mengenal sisir. Wajahnya, yang terbalut kalut, tampak kuyu, sama kuyu dan lusuhnya dengan pakaian yang ia kenakan. Lihatlah, kataku pada diri sendiri, di tangannya ada parang. 


Parang.


Tangan ringkih seperti dahan pohon itu menggenggam parang dengan erat, menampilkan guratan urat pada lengannya. Mendadak tawaku menghambur kemana-mana, ke sisi jalanan, ke pelosok ranting-ranting pohon, kemudian terhenti di depan wajahnya yang sekarang tampak aneh. Lihatlah, begitu kataku pada kalong yang blingsatan karena tawaku menghambur kemana-mana, laki-laki itu sekarang matanya merah padam. Entah karena darah telah naik hingga ujung kepalanya entah tawanya yang telah menghambur kemana-mana.


Di depan kaca retak toko usang pinggir jalan ini, aku mengamati pantulanku yang terburai. Perlahan, aku menyeret kaki untuk melangkah, terseok-seok karena berat parang yang membebani tangan kini merambat pula membebani pundak, terus merambat hingga ujung kepala. Ah, aku masih harus melangkah, entah dimana tujuannya nanti. Langkahku gontai, tanganku memilih menyeret parang alih-alih mengangkatnya seperti seorang kapitan kelas kakap.


Kalong-kalong masih blingsatan di atas kepalaku, barangkali sedang mengutuk aku yang tiada sopan mengusik malam mereka. Aku terus menyeret kakiku, menyeret parang, yang kini meninggalkan baret pada jalanan. Lihatlah, kataku pada onggokan bangkai tikus yang terlindas di tengah jalan, bekas yang dilalui parang meninggalkan rentetan warna merah.


Merah. Mendadak tawaku menghambur kemana-mana lagi dan para kalong sudah tiada peduli padaku. Malam masih terus merambat naik, malam masih panjang, dan aku masih harus menyeret langkahku entah kemana.


****


Dunia tidak pernah adil. Hidup tidak pernah adil. Manusia tidak pernah adil. Ketiga hal itu menyertaiku, menyertai kelahiranku. Saban hari ikut tumbuh bersamaku, menjejaliku, dan tumbuh semakin liar dipupuk dengki. Dan bulan.


Aku membenci bulan. Aku tiada pernah memberi ijin padanya untuk seenak hati masuk ke dalam rumah. Namun bulan tetap masuk melalui segala celah yang ada, seakan ia sedang menertawaiku. Seakan berkata, “lihat aku, lihat aku. Aku begitu cantik dan bebas mengisi tiap sudut rumahmu melalui celah rompal sana sini itu.”


Bulan senang berlompatan di dalam rumah. Cahayanya kerap bersembunyi di balik kursi, di bawah kolong meja, atap-atap. Ia menari, melonjak, berlarian, dan aku dipaksa melihatnya yang sedang bersuka ria sedang aku bersuka duka.


Barangkali tidak hanya aku yang membencinya. Ibuku pun membenci bulan. Ketika bulan mulai singgah, Ibu akan serta merta memboyong badannya sendiri pergi entah kemana, meninggalkanku yang terperangkap bersama sinar angkuh bulan. Aku dipaksa menghadapinya sendirian dan bulan yang mengambil Ibuku membuatku semakin membencinya. Semua ini karena bulan. Bulan mengambil Ibuku.


Berbeda dengan bulan, aku mencintai matahari. Hangat cahayanya memeluk tubuhku dan kudapati Ibu tidur dipeluknya juga. Matahari begitu baik dan pengasih. Jika ada dirinya, lalu lintas akan dipenuhi manusia, lalu-lalang. Dari keramaian itu aku mendapat uang. Dari uang itu aku mampu hidup. Matahari adalah kehidupan.


****


Sekarang pukul lima lebih dua puluh. Matahari yang aku kasihi itu perlahan mulai meninggalkanku. Terkadang ia begitu tega melepas pelukannya dan menyerahkanku kepada bulan. Namun matahari begitu baik, bisa jadi bulan mendesaknya agar ia dapat mengejek orang-orang sepertiku.


“Apa kali ini juga pergi, Bu?”


Aku bertanya dengan lembut, begitu pelan, lirih. Sebab aku tahu, Ibu sangat membenci bulan dan suasana hatinya menjadi hutan belantara yang asing untuk dipahami. Ia bisa menjadi sangat marah jika aku memintanya tinggal di rumah.


Ibu mengemas barang-barangnya, dimasukkannya satu persatu. Bedak, lipstik, dompet, sapu tangan, “ya, pergi.”


Suaranya yang lirih beradu dengan dengung adzan yang bersahutan, deru kendaraan yang ikut menggetarkan dinding rumah, juga suara klakson kereta di kejauhan. Segala suara itu bercampur dan masuk ke dalam telingaku, mengendap menghasilkan degup jantung yang risau. Aku sendirian lagi kali ini dan bulan akan mendatangiku sambil menertawaiku.


Dengan ragu, aku merangkul tangan Ibu, “malam itu seram, Bu. Aku takut. Aku ikut, ya.” Setengah isakanku itu hanya dibalas oleh mata melotot Ibu. Ibu bangkit dengan tergesa, berjalan cepat menuju pintu, lalu pergi meninggalkanku yang masih terduduk.


Aku berdiri untuk menutup pintu, upaya sia-sia untuk menghalau cahaya bulan karena ia pasti bisa masuk melalui celah apapun yang ada. Aku duduk meringkuk di atas tikar yang ujungnya sudah terurai kemana-mana. Tidak ada cahaya malam ini, tidak ada lilin, hanya bulan. Aku merasa sedang diejek.


****


Segala ketakutan dan kewaspadaan yang menjalari tubuhku membuatku lelah dan akhirnya aku jatuh tertidur. Aku tidak tahu pada pukul berapa terdengar suara bising dari luar rumah. Dinding tipis ini tidak mampu menyaring suara. Dinding ini tidak mampu melindungi apa-apa saja yang ada di baliknya.


Malam belum lagi habis. Suara hewan malam bercampur dengan suara seru-seruan dan gelak tawa yang mengerikan. Beberapa saat kemudian, badanku terlonjak karena pintu rumah ditendang, menimbulkan suara berdebum yang merambat ke tubuhku. Sekonyong-konyong aku bangun dan mendapati dua orang di ambang pintu.


“Dasar miskin, punya tanah katanya, tapi rumahnya cuma gubug.”


Seseorang yang tidak aku ketahui wajah dan namanya itu meludah ke dalam rumah. Cahaya bulan yang sempurna ikut masuk melalui pintu yang terbuka lebar, membuat kilatan pada air ludahnya. Aku bergidik, bukan karena ngeri, namun ironis karena bulan yang gemar menyombongkan dirinya kini harus menyoroti air ludah laki-laki gemuk bermuka mirip babi.


Orang bermuka babi itu mengisap rokoknya, sedang sebelah tangannya tersampir di bahu seseorang yang kukenal seperti aku mengenal diriku sendiri. Seseorang itu penuh lebam, ada darah tipis di sudut bibir dan pelipisnya, mengerang sambil melakukan usaha sia-sia melepaskan dirinya.


“Cuma ini kekayaanmu? Hutangmu itu tidak akan pernah lunas walaupun kamu bekerja sampai mati, tahu kan? Mau kerja jual badan pun percuma.” Laki-laki itu terkekeh, kemudian melihatku yang masih terduduk ketakutan. Di matanya, aku terlihat seperti tikus yang tidak ada nilainya.


“Oh? Ini anak dari laki yang mana? Mukanya kotor betul, tapi tak masalah. Tidak ada yang bakal peduli kalau ada bocah gelandangan yang hilang. Gini saja, rumahmu dan dia, aku ambil. Gampang, toh?”


Tangannya yang besar dan tambun itu menepuk pundak Ibuku sambil tertawa. Air ludah terciprat kemana-mana dan sekali lagi, bulan yang selalu mengejekku itu kembali menyorotinya. Aku semakin benci padanya karena ia seperti menemukan teman untuk menginjakku malam ini.


Ibuku, orang yang aku kasihi, orang yang kuharap akan menarikku keluar dari situasi ini, malah mengangguk, “asal tidak kamu ganggu lagi aku. Anak itu cuma hasil dari kecelakaan.”


Laki-laki itu melempar sisa rokoknya lalu menginjaknya. Ia tertawa puas, “oh tapi jangan salah kira kamu bebas. Selamanya kamu cuma rendahan.” Ia memukul pipi Ibuku.


Di hadapanku, seseorang yang aku kasihi seperti aku mengasihi diri sendiri, dipukuli oleh seseorang yang mengambil Ibuku. Apakah ia yang setiap malam mengambil Ibu, memaksaku bergulat dengan cahaya bulan yang angkuh dan culas? Namun, kenyataan bahwa perempuan yang aku kasihi itu tidak menyayangiku sebagaimana aku padanya, membuatku merasa segalanya sungguh tidak adil.


Atau Ibu telah berubah menjadi sesuatu yang lain karena entah bulan entah laki-laki berwajah babi itu mengambilnya? Aku membenci bulan. Bulan selalu membuat Ibuku pergi. Aku juga membenci laki-laki itu, yang rupanya juga bersekongkol dengan bulan untuk membawa lari Ibuku saban malam. Bulan tengah berloncatan di dalam rumahku, sambil terus menertawaiku, ia menampilkan cahayanya yang indah. Sesuatu yang begitu cantik lagaknya dapat menjadi sesuatu yang jahat pula.


Laki-laki itu terbatuk dua kali setelah menyesap rokok yang asapnya mencekik napasku, kemudian ia meludah, mengeluarkan dahak, dan kali ini bulan sang cantik itu tampak kotor karena menyorotinya.


Bulan yang kini kotor menertawaiku, bersamaan dengan suara laki-laki itu yang tertawa bungah sebab mendapatkan apa yang ia mau. Aku muak. Telingaku pekak, napasku tercekik asap, dan kepalaku pening.


“Berani-beraninya matamu nyolot. Mau apa memangnya?”


Bulan begitu riang, riang, riang, sampai berlompatan dengan bungah. Aku melihatnya berlompatan di atas benda yang berkilat terkena cahayanya. Aku akan membunuh bulan agar ia berhenti. Maka, kuambil benda berkilat itu dari dinding, benda yang kadang kupakai untuk membabat rumput untuk sapi ternak.


Aku mengejar bulan dengan beringas. Ia terus berlarian dan aku menyambit segala hal yang ia lewati. Terus, terus begitu, hingga tanpa sadar warnanya telah berubah menjadi merah.


0 Reviews: