Kadang, aku tidak mengerti apa yang dipikirkannya. Tubuh mungilnya menyimpan luapan emosi yang terkadang tidak kupahami. Suatu waktu, ia bisa berbicara panjang lebar, tentang kucingnya, manusia, atau apapun yang sedang lewat di hadapannya. Namun, beberapa saat kemudian, ia bisa saja menjelma menjadi seorang pendiam yang terlihat melamun seakan berapa persen jiwanya pergi entah kemana.
Malam ini aku mengantarnya pulang sehabis bercakap banyak hal mengenai buku. Ia bersenandung sambil melihat ke arah jalanan. Aku menunduk melihat langkah kaki kami yang timpang, dan aku berusaha menyesuaikan langkah kakiku yang lebar, mengikuti langkah kakinya yang kecil.
Lampu jalanan mati. Aku sering mengumpat kenapa fasilitas umum seperti ini tidak kunjung diperbaiki. Namun, bulan tampak begitu terang, sehingga malam ini kami tidak perlu berjalan sambil menyalakan senter ponsel. Samar-samar aku bisa melihat bayanganku yang temaram bersebelahan dengan miliknya. Sinar bulan yang teduh jatuh mengenai rambutnya, kemudian membingkai wajahnya.
Aku melihat ke sekeliling. Sekarang hampir pukul dua belas. Aku bisa menangkap suara hewan-hewan malam berdesing di telingaku, diikuti dengan sayup-sayup suara orang mengobrol di kejauhan. Ah, tanpa kusadari, ia telah berhenti bersenandung.
"Na?"
Aku memanggilnya pelan, mencoba meraih kembali kesadarannya yang pergi entah kemana. Mendengarku memanggil namanya, ia tergagap sebentar, lalu menoleh. Sinar matanya seperti mengatakan 'apa?' dan hanya dengan sorot mata itu, ia menjawabku.
Aku menggeleng pelan sambil tersenyum. Aku kembali melihat ke sekeliling dan mataku menangkap satu sinar mungil yang melintas di antara pepohonan. Untuk seorang yang lahir dan tumbuh besar di desa, aku tahu cahaya mungil itu adalah kunang-kunang. Awalnya hanya satu, kemudian menjadi dua, dan mereka bersliweran di tengah lembut sinar bulan.
"Lihat, kunang-kunang. Katanya kamu pengen lihat kunang-kunang?"
Ia langsung menoleh cepat ke arahku dengan antusias sambil bertanya 'dimana?' berulang kali. Aku ingat ia sangat ingin melihat kunang-kunang di sawah desaku, yang muncul meruak begitu banyak seusai hujan reda.
Telunjukku menunjuk ke arah pepohonan, "itu, sinar-sinar kecil itu. Cuma sedikit, biasanya kalau habis turun hujan, mereka ada banyak. Tapi ini di kota, sih."
"Wah, keren. Aku baru pertama kali lihat kunang-kunang. Kupikir kunang-kunang munculnya langsung banyaaak, begitu. Ternyata beda sama yang sering kulihat di film, ya."
"Ini di kota. Biasanya di sawah lebih banyak."
"Nanti, kapan-kapan ayo lihat kunang-kunang di tempatmu, di sawah, habis hujan."
Ia tersenyum. Perlahan, ia menyusupkan jarinya ke sela-sela jariku, kemudian ia menggenggamnya erat. Seakan ia tidak akan melepasnya lagi. Aku balas menggenggam tangannya, "iya, nanti kita lihat sama-sama, ya."
Senyumnya merekah dan matanya kembali berbinar. Lihat, akhirnya ia kembali dari lamunannya yang entah sedang pergi kemana itu. Semilir angin mengenai rambutnya. Di bawah redup cahaya bulan, kunang-kunang, dan jemari kecilnya yang menggenggam tanganku, aku ingin memeluknya.
Perlahan, aku menarik bahunya, pelukan yang tidak begitu lama, namun aku melakukannya dengan kesungguhan hati. Ia tampak bingung dengan pelukan yang terjadi secara mendadak, namun ia tidak menolak.
"Uh, kenapa tiba-tiba?" Ia bertanya dengan suara pelan.
Aku tersenyum. Terkadang ia tampak menyebalkan hingga aku harus menghela napas berkali-kali, kadang ia banyak bicara, melamun, bersikap ceroboh, keras kepala, atau melontarkan lawakan yang hanya ia sendiri yang mengerti. Aku ingin bersama dirinya bahkan ketika aku tahu banyak keburukannya. Aku ingin bersamanya dan pelukan itu adalah bahasa yang kusampaikan padanya.
"Kukasih peluk." Kataku. Ia tampak bingung, lalu sesaat kemudian berkata 'oke' dan memelukku. Ia tampak senang hanya dengan melihat kunang-kunang.
Aku tidak tahu bagaimana rupa masa depan. Namun, karena berkhayal itu tidak dibatasi apapun, aku selalu membayangkan masa depan dimana kami minum teh bersama, membaca buku, atau menghabiskan hari libur hanya bermalas-malasan dan bermain game. Untuk mewujudkan itu, aku akan berusaha. Aku punya tujuan sekarang dan tujuanku adalah seorang yang kini sedang berdiri di sebelahku.
Kami melanjutkan berjalan dengan bergandengan tangan. Kami hanyalah dua anak muda yang masih terus meraba bagaimana masa depan. Dengan mimpi kami masing-masing, kami saling melangkah bersama.
April 25, 2023
Kadang, aku tidak mengerti apa yang dipikirkannya. Tubuh mungilnya menyimpan luapan emosi yang terkadang tidak kupahami. Suatu waktu, ia bis...
Kunang-Kunang

About author: Sam
...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 Reviews: